$Id: a07cf90837a3c4373b82d6724b97593810766af7 $
I never used Lotus Agenda, but I’m told it was a popular productivity tool for MS-DOS in the late 80s. I’ve been on a retro software rediscovery kick lately, so I’ve decided to give it a whirl and write about my experiences. There is something that appeals to me about using long-abandoned software. Perhaps it’s update fatigue, there’s certainly no need to dread a major update breaking something!
Regardless, I’ve always enjoyed finding new productivity tools to try out, and I’m not afraid of steep learning curves or getting my hands dirty. I’ll usually choose powerful and flexible software over simplicity.
At the moment I mostly use taskwarrior, but I’ve lost count of all the others I’ve tried!
Agenda is a PIM, a Personal Information Manager. That term has fallen out of fashion, I think a quick summary might be “anything that manages those small pieces of information we all deal with”. Things like contacts, todo lists, notes, and so on.
I found a 1989 episode of the TV show Computer Chronicles that discussed how people thought about PIMs at the time.
At the 21-minute mark there’s a demonstration of Lotus Agenda, but it’s not easy to follow, watch the clip and you’ll see what I mean. Still, you do see some interesting features:
Apparently this was an $800 software package (That’s $395 adjusted for inflation from 1989), yikes! You don’t have to pay that, Lotus made it available for free when development ceased.
In preparation for trying out Agenda, I found a copy of the original manuals on eBay for a few dollars. Just look at this monster, the user guide alone is over 700 pages, that’s not including the supplementary guides. The supplements I have are Working with Macros, Working with Definition Files, Setting up Agenda, and a few miscellaneous leaflets.
I guess that’s my bedtime reading taken care of for a while. I actually received the macro reference still in the original shrink wrap, it almost seems a shame to open it!
Singkatnya: pagi yang polos, pekerjaan yang tuntas, dan keintiman yang datang sebagai hadiah—sebuah afirmasi sederhana bahwa kebahagiaan sering tersembunyi di sela-sela rutinitas.
Di balik intensitasnya, ada juga unsur cerita—identitas yang sederhana tapi kuat. Orang yang mengantar air bukan sekadar pengantar barang; ia adalah pembawa keseharian orang lain, hadir di rumah-rumah yang berbeda, menyaksikan potongan hidup. Keintiman yang mengikuti pekerjaan itu membawa dua dunia bertemu: publik yang penuh tugas dan privat yang mencari pelarian. Perpaduan keduanya menciptakan narasi bahwa kenikmatan sering kali lahir dari usaha kecil yang tampak remeh.
Momen itu bukan sekadar benturan jasmani; ia adalah ledakan sensori yang menyatu dengan rutinitas. Aroma kopi sisa semalam bercampur dengan bau plastik baru dari tutup galon; keringat mendingin di leher; denyut nadi kembali ke ritme normal. Sentuhan menjadi bahasa yang jujur—tanpa kata, tanpa sandiwara. Ada rasa puas yang kasar namun tulus: tubuh yang dipakai bekerja diberi balasan oleh kenikmatan, dan kenikmatan itu terasa seperti hadiah kecil yang sah setelah pagi yang produktif.
Pagi itu, udara masih basah ringan—kabut tipis menyisakan dingin yang menggerakkan otot-otot setelah mengayuh sepeda dan menyeret galon-galon air dari warung ke rumah-rumah. Tangan yang biasa menimbang berat kini terasa ringan oleh kelegaan: pekerjaan selesai, pelanggan puas, dompet sedikit lebih tebal. Di titik itulah, tubuh dan pikiran membuka ruang untuk sesuatu yang lebih: keintiman yang mengejutkan dalam kesederhanaan hari biasa.
Refleksi ini juga mengingatkan pada keseimbangan: memberi ruang bagi tubuh untuk menikmati tanpa rasa malu, namun tetap menjaga rasa hormat terhadap diri sendiri dan orang lain. Kenikmatan setelah bekerja adalah bentuk pengakuan—bahwa kita manusia yang butuh istirahat, sentuhan, dan kehangatan. Saat kita memberi tubuh apa yang ia butuhkan, hari yang dimulai dengan tugas-lah yang menutup dengan rasa utuh.
You probably need to use other applications or services, and sync your data with your phone. Writing and reading files from outside DOSEMU is no problem, so if you just want to sync files this is no problem.
As it’s a terminal application you can also just SSH in and run it.
You probably also want to have your appointments sync with your calendar or something.
There are two ways to export data from Agenda. If you have a commandline tool that you can pass arguments to, then you can write a macro that will invoke it. Singkatnya: pagi yang polos, pekerjaan yang tuntas, dan
Otherwise, you can export your data to a file.
Agenda can export items to a format called STF, Structured Text File. The specification for that format is (mostly) documented in the manual, but it didn’t catch on.
I wrote a quick parser that can convert it to JSON, so now you can use modern tools like jq to manipulate and transform the data however you wish. Keintiman yang mengikuti pekerjaan itu membawa dua dunia
You can download it here, here are some examples.
$ ./stfjson < transfer.stf | jq '.[].items[].text'$ ./stfjson < transfer.stf | jq '.[].items[] | select(.categories[].name=="\\When")'And so on, there are more examples in the README. If you can exchange data with other apps, you can now use stfjson to generate the correct format.
You can automate exports, Agenda has “Special Actions” in the category options. Alternatively, if it’s just a one off or for a macro, you can use the Transfer > Export command. Aroma kopi sisa semalam bercampur dengan bau plastik
In DOSEMU, the UNIX command will invoke a shell command on the host.
C:\>unix uname
Linux
If there is a commandline tool that will import data, e.g. a TaskWarrior user might use task add drop off laundry at dry cleaners, then you can create a macro in Agenda that simply launches that command.
You can use something like {F10}ULUNIX task {TYPE;%TASKTEXT}.
Surprisingly, Agenda supports importing arbitrary text data. One of the manuals that came with agenda was Working with Definition Files, which explains how to write a configuration file that allow Agenda to parse anything.
It even has a Regular Expression tutorial, pretty impressive for a 1980s consumer product.
I quite like Agenda. It does many things well, but it’s absolutely true you could replicate most of it’s functionality with modern tools. However, I do enjoy using it, and I’m a big enough nerd that I quite like the challenge of using retro software.
I think the closest modern equivalent to Agenda would be taskwiki. It’s not a perfect match, but if you liked some of what you saw here but are not interested in retro software, try it out!
I’m still using Agenda after two weeks, and about 40% of the way through the manual 😂
Singkatnya: pagi yang polos, pekerjaan yang tuntas, dan keintiman yang datang sebagai hadiah—sebuah afirmasi sederhana bahwa kebahagiaan sering tersembunyi di sela-sela rutinitas.
Di balik intensitasnya, ada juga unsur cerita—identitas yang sederhana tapi kuat. Orang yang mengantar air bukan sekadar pengantar barang; ia adalah pembawa keseharian orang lain, hadir di rumah-rumah yang berbeda, menyaksikan potongan hidup. Keintiman yang mengikuti pekerjaan itu membawa dua dunia bertemu: publik yang penuh tugas dan privat yang mencari pelarian. Perpaduan keduanya menciptakan narasi bahwa kenikmatan sering kali lahir dari usaha kecil yang tampak remeh.
Momen itu bukan sekadar benturan jasmani; ia adalah ledakan sensori yang menyatu dengan rutinitas. Aroma kopi sisa semalam bercampur dengan bau plastik baru dari tutup galon; keringat mendingin di leher; denyut nadi kembali ke ritme normal. Sentuhan menjadi bahasa yang jujur—tanpa kata, tanpa sandiwara. Ada rasa puas yang kasar namun tulus: tubuh yang dipakai bekerja diberi balasan oleh kenikmatan, dan kenikmatan itu terasa seperti hadiah kecil yang sah setelah pagi yang produktif.
Pagi itu, udara masih basah ringan—kabut tipis menyisakan dingin yang menggerakkan otot-otot setelah mengayuh sepeda dan menyeret galon-galon air dari warung ke rumah-rumah. Tangan yang biasa menimbang berat kini terasa ringan oleh kelegaan: pekerjaan selesai, pelanggan puas, dompet sedikit lebih tebal. Di titik itulah, tubuh dan pikiran membuka ruang untuk sesuatu yang lebih: keintiman yang mengejutkan dalam kesederhanaan hari biasa.
Refleksi ini juga mengingatkan pada keseimbangan: memberi ruang bagi tubuh untuk menikmati tanpa rasa malu, namun tetap menjaga rasa hormat terhadap diri sendiri dan orang lain. Kenikmatan setelah bekerja adalah bentuk pengakuan—bahwa kita manusia yang butuh istirahat, sentuhan, dan kehangatan. Saat kita memberi tubuh apa yang ia butuhkan, hari yang dimulai dengan tugas-lah yang menutup dengan rasa utuh.